Beranda Struktur OSIS Tugas dan Fungsi Program Kerja Aspirasi Siswa Opini Gagasan Novel Ceritaku Kontak Kami

Senyum dalam Tangis

Saat sore tiba aku selalu duduk di pinggir jalan, tempat melintasnya manusia dengan segala aktifitas. Namun suasana berubah saat seorang wanita dengan baju cream melintas di tempatku  dan teman–teman biasa nongkrong dan ingin sekali memiliki-nya, Eva namanya, ya begitu, begitulah Ia dipanggil. Walaupun senyum itu belum tentu untukku, tapi aku yakin itu untukku. Senyumnya itu tak dapat kulupakan, sebab saat itu umurku masih 17 tahun, masih pubertas. Kuterbayang wajahnya yang manis, memberi kesejukan tersendiri pada nikmatnya. Kutak peduli dengan kata–kata mereka, suasana keakraban antara kami tercipta, kami semua teman–teman lama mulai SMP, semua nostalgia masa lalu terulang di sore itu. Saling bergantian bercerita selama berjalan kehidupan masing–masing. Apalagi hatiku berbunga-bunga oleh senyuman princessa bintang tersebut, ditambah dengan canda tawa teman–teman lama.
Adzan mahgrib menyambut, buka puasa telah mengetuk untuk me-nyambut hidangan  ibuku yang mulai sore tadi mempersiapkan. Rasa bahagia dan kehangatan kekeluarga-an  tercipta karena bulan ramadhan semua keluargaku berkumpul.
Di rumah  kalau hari-hari biasanya
hanya dihuni Bapak, Ibu dan Adik laki-laki kecilku. Bulan ramadhan kali ini begitu berarti bagiku, karena semua-nya berkumpul. Entah mengapa aku selalu terbayang olehnya, padahal ini kan bulan puasa. Apakah ini yang namanya cinta, semoga saja ini bukan talian tipuan syetan untuk meng-hancurkan pahala puasaku. Batinku berperang menjawab hendak bagai-mana menentukan sikap.
Makanan segar dan minuman dingin mengawali puasa hari ini. Alhamdulillah, menikmatinya. Bapak, Ibu, Adek & Kakak duduk mengelilingi meja makan. Indah sekali rasanya suasana ramadhan kali ini. Dan kini aku tengah bersiap-siap untuk melaksana¬kan shalat tarawih di masjid.
“Rud, mukamu kok keliatan ceria banget hari nie, ada apa niech..??” Toni
membuka percakapan.
“Kamu terbayang dengan senyum Eva ea?”
“Fani dan teman-teman yang lain ikut tertawa,”
“Emangnya cuma Eva yang bisa membuatku ceria?” jawabku membela.
Waktu terus bergulir deras seiring bergantinya hari-hari liburanku. Senyum Eva yang kujumpai dua hari lalu, kini kujumpai lagi di sebuah toko pakain. Saat itu aku mau beli kaos. Hatiku tergetar melihanya, kegersa-ngan jiwa selama ini terasa sejuk dengan sinar raut mukanya dan senyuman manisnya.
“Mau beli apa, Rud..??” senyumnya bergulir dari daun bibirnya.
“Eh...... kamu, Va. Lagi nyari kaos niech.” waw detak jantungku semakin kencang dengan sapaannya.
Setiap aku berada dimanapun aku selalu berharap akan bertemu dengan¬nya lagi. Namun tiga hari kemudian harapan bertemu dengannya tak lagi bisa. Rindu itu kutahan sampai beberapa hari sampai suatu saat di suatu penganten aku bertemu dengannya, seperti biasa hati bergerak tanpa arah saat aura perempuan itu menaburkan indahnya di mata. Mulanya aku bahagia bisa melepas kerinduan walau hanya lewat pandangan, namun kesedihan tiba-tiba datang menyapa saat acara itu selesai dan Eva kukira menghilang dari pandanganku. Aku bingung kenapa Eva masih belum pulang padahal yang lainnya sudah pada pulang. Kuberanikan diri mendekatinya.
“Aku sengaja menunggumu dari tadi, Rud.” Suaranya yang merdu mengawali percakapan.
“Memangnya ada perlu apa?” aku malu berada di sampingnya.
“Kita pulang bareng yuuk!” pintanya manis.
Sebenarnya aku ngak mau me-lakukan sesuatu di luar peraturan agama, tapi ngak mau mengecewakan dia. Kami berjalan asyik dengan obrolan basa-basi seputar penga
Kami mencoba mengenalkan diri ma-sing-masing, sampai akhirnya langkah terhenti di depan pintu rumah Eva.
Kenangan inilah yang ngak dapat kulupakan, hingga suatu hari berita bahwa Eva akan pergi ke kota. Pertama kucoba berbaik sangka, mungkin ia mau melanjutkan study kuliahnya di kota. Tapi itu awal dari kesedihanku, ia pergi bersama tunangnnya untuk melang¬sung¬kan pernikahannya di rumah bapaknya. Ia begitu baik padaku, aku sulit sekali melepas ia pergi. Senyum manisnya yang selama ini diberikan harus kunikmati dengan tangisan mendalam yang entah harus berapa lama aku menanggungnya.

Oleh: Rusdiy

PERGAULANKU MERENGGUT NYAWAKU

Namaku Meric, anak ketiga dari empat bersaudara dan saat itu umurku genap 17 tahun. Masa dimana Qw menuju jenjang kedewasaan, rasa senang itu ada, tapi yang kutakutin “apakah aku bisa mengontrol emosi sendiri??“. SMA adalah masa-masa yang paling indah yang kualami sepanjang hidup, dimana aku bisa mengenal satu sama lain. Tapi kedewasaanku juga tidak mampu membuat impianku terwujud seperti yang kuinginkan. Kecemburuanku terhadap bokap dan nyokapku slalu mentingin urusan mereka dan mentingin urusan kakak dan adikku yang membuatku seperti ini. Waktu itu adik dan kakakku  mampu mendapat nilai terbaik dimana bokap dan nyokap slalu membanggakan mereka. Aku iri
sama mereka. Dari situ aku bangkit dan optimis demi membuat bokap dan nyokap  bangga. Tapi mereka selalu menganggap aku ga’ ada, mereka slalu menganggap aku slalu  buat keluarga malu.
Sampai akhirnya disitu aku ber-temu dengan rombongan yang terkenal bejatnya di sekolahku. Sebut saja nama genk “REGGAE BOB MARLEY BOY’S. Mereka adalah anak–anak orang kaya yang sombong, angkuh, dan tak punya hati. Tapi aku juga bingung, saat aku bisa  terhasut omongan mereka semua, aku mulai mengenal yang namanya MIRAS dari mereka, Narkoba juga mereka dan yang ngajarin aku untuk mencobanya. Pertama nyoba iya, rasanya lain, tapi lama–kelamaan aku jadi ketagihan dan ketergantungan sama obat-obatan  terlarang itu. Aku yang dulunya doyan di rumah, sekarang malah ga’ betah. Aku buru–buru keluar soalnya takut bokap-nyokap khawatir. Tapi sekarang, dengan santainya kununggu  teman–teman genk REGGAE untuk minta obat–obatan itu ke mereka karena setiap saat badanku slalu mengigil dan kepalaku pusing berat. Bagiku obat itulah hidupku. Ngak ada bokap-nyokap, gak ada kak Tasya, gak ada Dimas  bahkan  gak  ada Qeeila, yang
ada hanya cuman aku dan obatku.
Ketergantunganku terhadap obat itu juga membuat kesehatanku menurun drastis. Kadang tanpa sadar aku marah–marah ga’ jelas sama nyo¬kap karena kebawelannya nanyain kemana aku pergi. Bahkan karena kesalahanku, ku juga pernah dorong nyokap sampai jatuh  dan disitu bokap nampar aku, dan entah apa yang diomongin aku kagak tau. Kak Tasya dan Mas Dimas juga mulai curigai aku yang mulai akhir–akhir ini tingkahku aneh dan kadang-kadang ngeselin. Bahkan mereka pernah nanyain aku ke Ifa dan Sila sahabat karibku dari SMP, kemana aja aku pergi setelah pulang sekolah?? dan untungnya Ifa dan Sila gak ngakuin  apa-apa saja yang selama ini aku lakuin di sekolah maupun luar sekolah.
Tiga bulan kemudian, saat kesehatanku benar-benar drop dan tak bisa ngapa- ngapain, semua panik, Bokap, Nyokap, Kak Tasya, Mas Dimas dan Qeeila, termasuk kedua sahabat karibku, bahkan Guru-Guru Sekolah aku juga ikut khawatir dengan keadaanku. Badanku mengigil, muka pucat kayak mayat. Mereka gak nyangka, aku yang selama ini  kelihatan baik–baik saja tiba-tiba sakit. Aku yang selama  ini  rajin  dan  aktif mengikuti
pelajaran sekolah tiba-tiba jadi pe-malas, kasar pula, kekhawatiran keluar¬ga, sahabat dan guruku  membuat me¬re¬ka semakin curiga. Nyokap nanyain aku kenapa, tapi aku diam saja.
”Meric kamu kenapa, Nak??” tanya nyokap.
”Kak Meric, kakak kenapa??” sambung Qeeila adik bungsuku yang masih du¬duk di kelas 3 SMP. Aku sema¬kin bingung de¬ngan keadaan dan situasi itu, kalo aku nekat keluar dari ru¬mah dan minta obat itu ke REGGAE, mereka akan semua curiga. Tapi aku gak kuat, dengan keadaan yang aku rasain.
”Ma, sakit Ma!!!“ kataaku ke nyokap. Tiba-tiba kesadaranku hilang, dan saat aku sadar aku ada di rumah sakit. Semua mengelilingiku seperti akan mencengkramku yang terbaring lemas di tempat tidur dengan alat medis yang menempel di tubuhku.
”Kenapa Meric nyoba mengkon-sumsi barang haram itu??” kata Mas Dimas, aku cuman bisa diam dan nangis.
”Papa kecewa sama kamu Meric?? Papa kamu membuat anak yang bisa  membuat Papa, Mama, Mas Dimas dan semuanya bangga sama kamu, tapi apa nyatanya membuat kamu semua hancur. Kamu me¬rusak masa depanmu sen-diri,“ ucap bokap dengan wajah ma-rah ke aku. Aku cuman na¬ngis–nangis dan nangis, penye¬salan kuratapi dan gak tau apa yang aku lakuin.
“Pa,, maafin Meric, Pa?? Meric tau Meric ini pembawa malu dalam keluarga, Meric tau Meric salah. Mereka selalu bisa membuat Papa sama Mama bangga, sedangkan Meric cuma bisa bikin keluarga malu,” derai air mata terus mengalir dari pelupuk mataku, dengan sigap Papa meluk  aku dan berkata, “maafin Papa, Nak, Papa gak tau kalau kamu segitu irinya sama kakak dan adikmu.”
Ruangan itu penuh dengan haru tangisan dari keluarga dan sahabatku.
Beberapa menit kemudian, Bu Indah salah seorang Guru di sekolah ku bertanya “Meric, siapa yang meng-hasutmu untuk ikut mencoba barang haram itu?” aku takut saat Bu indah bertanya seperti itu, dan Kak Tasya menenangkanku, ” tenang Meric, ngak usa takut, semua akan baik-baik aja kok. Dan Mas Dimas, Papa, Mama, Kakak, Qeeila dan orang-orang yang sayang sama kamu disini. Siapa tau dengan kamu memberitahukan orang-orang itu semua akan kembali seperti dulu lagi,” kata Kak Tasya. Aku merasa lega dan merasa berani setelah mendengarkan saran dari Kak Tasya. Dan aku mulai menjelaskan semuanya, ”rombongan  REGGAE BOB MARLEY BOY’S yang sudah membuat Meric seperti ini. Meric menyesal banget udah ikut omongan mereka, semua hancur gara-gara Meric sendiri seperti papa bilang. Meric cuman anak pembawa malu keluarga.” isak tangisku membuat mereka semakin sedih  dan membuatku drop dan pingsan kembali, dan aku kembali menjalani masa komaku. Mereka pada saat itu keadaan aku benar-benar sangat lemah .
Semua tampak sedih, tiga hari berlalu aku belum kunjung sadar.
”Meric bangun, Nak?? Ini Mama, bangun, Nak. Jangan membuat semua khawatir!“ kata Mama sambil mena¬ngis. Dan dalam masa komaku itu, aku hanya bisa mendengar tapi tak bisa berbuat apa-apa.
”Meric, bangun dong! Kasian Mama, kamu harus bangun demi kita. Mas janji gak akan buat kamu marah lagi, gak akan buat kamu bete lagi. Mas janji akan beliin boneka Hello Kitty warna unggu buat kamu. Tapi kamu harus bangun Meric.“ ucap Mas Dimas sambil meneteskan air mata. Menangis semua mengharap kesembuhanku, tetapi Tuhan berkata lain, keadaanku semakin memburuk dan hidupku hanya sebatas alat medis itu. Aku mencoba  bertahan demi keluargaku, demi sahabatku dan demi orang–orang yang menyayangiku. Tapi takdir tidak bisa ditakdiri, isak tangis mem¬banjiri ruangan itu. Disana yang ter¬baring  tinggalkan ragaku, mungkin dengan kepergianku semua akan lebih baik. Mama, Papa, Qeeila, Mas Dimas, Kak Tasya, Meric sayang sama kalian. Ketidakmampuan Meric untuk meno¬lak takdir yang membedakan dunia kita.

By: The Vampire
Mr. Simple

So Much Forgive Me Happy Ending

Mungkin malam ini aku bisa meresapi betapa dinginya ribuan embun yang menyelimuti diriku. Sejak awal februari cuaca di Jakarta emang beda dengan di Bandung,  di Jakarta curah hujan cukup tinggi sekitar 15 derajat celcius sampek–sampek tiap hari mantel berbahan sutra yang berwarna biru. Aku memang lover”s banget sama warna biru karena biru melambangkan ketenangan yang damai. Aku ingin menciptakan dunia ini damai, jadi tidak ada  peperangan  yang selalu mengusik dunia. Tapi semua itu tak segampang yang kukira karena setiap perkumpulan pasti ada yang menjadi fir’aun alias drung yang berhati hitam dan jahat “kenyataannya kun”.
Keesokan hari...
Pagi ini adalah pagi yang begitu spesial buatku untuk pertama kali menginjak  sekolahan yang begitu mewah tepatnya di 143 Jakarta.
“Helda“ ucap seorang yang memanggilku, “siapa yang kayaknya kenal“ batinku saat melihat dari jauh. “Hel...lho masih kenal kan... ni gue Feby sobat lho waktu SMP.”
“Feby... masyaallah kamu bener Feby  sobat gue yang tomboy itu kan... tapi kayaknya ga’ kaya’ biasa.“
“Ya emang bener sekarang gue ingin menjahui sikap tomboy gue yang dulu.”
“Lho, kok bisa berubah? Salut gitu,  gue gak nyangka  sikap lho,“
“Ceritanya panjang  tar gue ceritain, O,,,ya, lho kok bisa masuk ke sekolah ini?”
“Gue pindah, Feb... soalnya bokap gue ada bisnis di Jakarta. Ya jadinya keluarga gue pindah ke sini.”
“Oooh gitu. Lho masuk ke kelas apa, Hel?”
“Xl-B,“ ucapku lencang
“Wah sama donk, lho duduk sama gue ya!“
“Iya deh.”
Kebetulan waktu itu jam pelajaran masih gak aktif, dengan adanya waktu luang Feby pun menceritakan peru¬bahannya di luar kelas sambil menik¬mati pemandanga halaman sekolah dan sekaleng coca-cola di penga¬nganku.
“Lho  yakin dia tuch cowok yang
setia? Masak sih lho percaya gitu ma dia sampek-sampek lho tuh berubah?“
“Gue she yakin banget klo Riski tipe orang yang begitu, emangnya kenapa? Apa lho gak seneng  sama perubahan gue sekarang, Hel?”
“Eem...m seneng banget gue, malahan ini yang gue harapkan dulu,”
“Bisa aja lho Helda” ucapnya tersenyum.
“Hei, Feb...” sapa Riski saat di hadapan-nya.
“Riski? lho kok ada di sini “
“Harusnya gue nanya sama lho, lho ngapain dari tadi keluyuran emangnya ga’ ada gurunya?”
“Emang iya ga’ ada gurunya, namun ada waktu gue mau nunjukin fasilitas disini ke temen gue,”
“Ini temen lho...dia anak baru disini?”
“Ya .... kenalin  namanya Helda.”
“Gue Rizki,” (saling berpandang mata)
“Oya...ya jangan lama-lama ya kenalannya yang penting udah saling tau. Masih ada tempat yang belum gue kasih tau sama lho Riz gue pergi dulu ya“
“Oh ya ga’ apa apa “ ucapku tersenyum .
“Kayaknya gitu kenal sama cewek itu, tapi apa bener dia itu Helda,”
Memang saat pertemanan itu Rizki sudah mengenalnya lebih dulu, karena waktu itu Rizki menyimpan perasaannya dulu. Saat Helda me-ngun¬jungi tempat pamannya di Bogor. Tapi itu sulit untuk menjawab kata ”iya” di bibir Helda. Karena sudah berulang kali Rizki mengatakan cinta padanya, tapi hasilnya sia-sia sebe¬narnya. Helda sudah menyukainya, tapi dia tak ingin seseorang yang menya¬yaginya kecewa karena sebenarnya Helda mengidap penyakit infeksi pada jaringan otaknya. Saat Rizki sudah mengetahui itu semua Helda berusaha menjauh dan melupakannya.
“Hel,  kamu pulang bareng siapa?”
“Eem...biasanya gue dijemput sama Pak Padi, super gue.”
“Owh ...gitu, udah dulu ya gue dha dijemput sama Rizki di luar. Lho hati-hati ya...oya ni ni ada surat  undangan buat lho tar malam lho datang plies ga’ ada lho kyaknya pesta ga’ sem¬purna.“
“Cie...e bisa gombal aja  lho. Iya deh gue insyaallah dateng.“
“Okey sampai ketemu besok malam ya...by”
 Aku mungkin bisa mengakhiri dengan menganggukkan kepala dan tersenyum karena bibirku membisu saat kumelihat mereka berdua. Bukan¬nya cemburu, tapi ini adalah sebuah penyesalan.
“Helda...Helda, ini ada ada teman kamu dateng”
“Iya mah... tunggu dulu nanti  Helda ke bawah ma...”
 Saat aku melihat ternyata Feby dan Rizki menunggu di bawah.
“Ayah ... Helda mau pergi sebentar sama teman,“
 “Ya sudah ga’ apa-apa, jangan malem-malem pulangya. Oya nak Rizki, om juga titip Helda  ke kamu, soalnya  Om sudah tau sikap kamu dulu waktu di Bogor  yah...”
“Ya Om... saya mohon pamit, assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikum salam.“ jawabnya.
Di perjalanan kami hanya bertiga mezkipun aku hanya diam membisu. Sesampai tempat tujuan.
“Emmm,, Feb kamu duduk sama Helda di bangku sebelah  utara  itu ya, aQ mau parkir mobil. Jaga temanmu baik–baik ya!”
“Ya hati-hati ya, sayang.”
Sementara itu Helda hanya sebagai budak yang berdiam di atas kursi dan Feby berkeliling menjumpai teman–temannya.
“Disini ada toilet ga’ yach, du...uh ... kepalaku pusing banget, Feby kemana ya dari tadi belom dateng,”
batinku sambil  memijat kepalaku yang amat pusing.
Saat itu Helda  berjalan pelan-pelan sambil mencari toilet. Belum sampai di tujuan  tiba-tiba Helda ping¬san dan hidungnya bercucuran darah. Tak disangka Rizki ga’ sengaja melihat dan menghampiri.
“Hel... Helda kamu ga apa-apa  kan?  Kamu kenapa... apa penyakit kamu kumat lagi?“ ucap Rizki sambil memangkunya dan merasa khawatir.
“Ga’, Riz, aQ ga’ apa-apa. Aku ingin pulang, Riz,  tolong antar aku pulang!“
Rizki pun mengantarkan aku pulang  tanpa pamit  kepada Feby dan kembali ke pesta. Dan Feby pun tau tentang kabar Helda pingsan.
“Tadi aku lihat kamu berdua’an dengan Helda ngapain?“
“Aku cuman nganterin Helda pulang karena Helda sakit dan minta pulang,”
“Alah itu cuman alasan kamu untuk mengantarnya. Klo kamu menyanyanginya  kenapa ga’ dari dulu dan kenapa baru sekarang kamu menyatakan?”
“Kamu salah paham, Feb. Aku sama dia cuman teman,“
 “Terus kenapa ayah Helda begitu baik sama kamu, sedangkan aku sahabat karibnya  ga’ dibela-belain? Kenapa, kenapa Rizki, kenapa?”
Tak sepatah pun Rizki menjawab, Feby sudah tidak ada di hadapannya. Saat itu Rizki  berusaha mengejar, tapi Feby menyebrang dengan semau dia dan langsung..
“Bra...a..k...k..” darah berucuran kemana–mana. Rizki hanya bisa melihat dan memeluknya, tetapi tidak bisa menjawab, aku menjelaskannya semua itu.
Sudah tiga hari kematian Feby, tapi hal itu tidak bisa dilupakan oleh Helda. Saat itu Helda selalu dihantui oleh banyangan-bayangan  Feby dan kabar itu sudah diketahui oleh Rizki.
“Kamu tau dari mana soal itu, Riz?”
“Kamu ga’ usah tau soal itu, yang pasti aku selalu menjagamu dari belakang,“ Helda diam tanpa kata dan pandanganya saling bertatapan, dan Helda berusaha berpaling darinya.
“Eem..m..m aku menemukan Diarynya Feby di rumahnya, aku baca aja. Saat dibuka  ternyata ada rangkaian B. Inggris yang isinya:
Dear My Boy Frend
I always need time on my alone, I never thoght I’d need you there when cry and the days feel like years when I’m alone when you‘re gone the pieces 
of my heart are missing you, when you‘re gone the face I come to know is missing too.
“Dulu aku selalu butuh waktu sendirian, tak pernah terpikir aku kan membutuhkan kamu saat aku menangis dan hari-hari terasa seperti saat aku sendirian saat kau tak ada  seluruh hatiku merindukanmu, saat kau tiada wajah yang mulai kukenal juga hilang.”
Saat Rizki membaca curhat itu, ada selembar kertas yang belum diketahui Helda dan Rizki, tapi Helda  baru mengetahui benda itu secara tiba-tiba.
Dear Sobatku
Aku mengerti semua tentang cinta dan kenangan masa lalu saat kau hadir dalam hidupku. Aku ingin hidup tenang tanpa ada kata bohong di telingaku. Aku mengerti semua ini, jadi pesanku padamu sobatku, Qtitip dia padamu dan bahagiakan dia karena dia adalah seorang yang membuatku berubah menjadi yang lebih baik.
So much forgive happy ending(terimakasih telah memberikan akhir kisah yang bahagia) tiba-tiba kertas berwarna  merah itu menge¬luarkan darah saat dipegang Rizki. Saat Rizki menatap Helda, Helda menangis dan memeluk Rizki dengan erat.
“Maafin aku, Riz, maafkan semua kesalahanku karena aku tak ingin membuatmu kecewa atas prilaku dan peyakit yang kualami.”
“Jadi kau memang mencintaiku dari dulu?”
“I..y..y...a..a......”
“Hel... mezkipun kamu mengidap kanker pun aku tetap mencintaimu. Jadi tolong jangan  mengecewakan  aku karena aku ingin menjadi pelengkap terakhir buat mue,“ ucap Rizki tersenyum.
Mungkin ini menjadi kisah yang berakhir bahagia buatku Feby... aku sudah  mengabulkan permintaanmu dan tolong jangan ganggu aku lagi, aku berjanji akan menjaga  dia baik-baik. Di akhir semester aku akan dioperasi dengan keinginan ayah Rizki.
Tuhan ,,, izinkan aku tuk bersamanya dan berilah aku  petunjuk  untuk menjadi wanita  tegar dan sholiha untuknya ...
Walaupun kisah ini menjadi misteri buat hidupku.

By: Facanah R_Helda 

Pacaran ada budaya .....

Berbicara tentang pacaran yang sudah men¬jadi sorotan di¬ setiap lembaga manapun, baik lembaga umum maupun lemba¬ga swasta, akhir–akhir ini di era yang serba edan dalam lapisan ma¬sya¬rakat mulai dari yang muda sampai yang tua, baik yang berada di kota-kota besar sampai merasuk ke plosok desa, yang sudah menjadi bahan perbincangan adalah soal pacaran, seakan-akan cinta di akhir–akhir ini, di era yang serba edan di seluruh lapisan masyarakat mulai dari doktrin lamaran yang berbasis pesantren dalam perkembangan selalu menghadapi banyak tantangan baik internal maupun eksternal.

Pada umumnya masyarakat, khususnya para pelajar yang ingin mencari pasangan hidup kita harus selalu mengikuti aturan-aturan agama, dan karena adanya budaya luar yang berhembus masuk ke dalam aktivitas kehidup¬an ditam¬bah lagi dengan hadirnya berba¬gai media inter¬net.

Setelah meli¬hat fanomena yang sangat kru¬sial sekali, sudah saatnya bagi lem¬¬baga umum bagi lembaga swasta untuk lebih mem¬fungsikan nilai–nilai ke-pesantren-an yang bersifat nor¬matif dan untuk merealisikan perintah Allah.

Dengan kita mengetahui bahwa berbagai bentuk hubungan di lem-baga swasta itu sangat ditentang oleh norma–norma ke-pesantren-an, maka kita harus menempati dengan cara melakukan aturan yang bersumber dari islam atau membudayakan tradisi ke-islam-an, yakni dengan kita mengetahui bahwa hubungan di lembaga swasta  itu sangat di tentang.

By: Kru Gastida 

Ada pelajar OKB

Berangkat dari realitas yang ber-kembang saat ini bahwa banyak pela¬jar sekarang yang propasif (baca: plus belajar), bahkan mereka lebih senang tertidur pulas, dengan diri mereka sen¬diri yang begitu kontra-produktif. Maka dari itulah, penulis tergugah untuk sekedar memberikan hantaran singkat dan memberikan kontribusi pemikiran sebagai lang¬kah antisipatif men¬cegah maraknya pela-jar yang propasif baca dan belajar.

Membaca, bela¬jar...? Wah... itu kuno ..,,,enjoy aja men! Mungkin ini kata-kata yang keluar secara spon-tanitas dari bibir pelajar OKB (Ogah Konsisten Belajar). Hal ini yang akan menjadi stimulasi spesifik bagi pelajar untuk melakoni budaya nonton yang sarat dengan dunia entertainment (hiburan) dari¬pada membaca dan belajar yang me¬rupakan kebutuhan fundamental bagi seorang pelajar. Membaca dan belajar yang sangat krusial bagi setiap pelajar untuk menambah khasanah keilmuan mereka, kini telah tersulap (direduksi) seakan menjadi hantu melenium yang harus ditinggalkan jauh-jauh oleh seorang pelajar.

Sejauh ini, maraknya pelajar yang mengalami stagnansi dalam membaca dan belajar (you can see) merupakan neokolonialisasi yang eksistensinya sangat kontradiktif dengan tujuan pembangunan nasional, yaitu untuk mencerdaskan kehi¬du¬pan berbangsa, serta turut memajukan tumbuhnya kecerdasan intelektual, kecerdasan interpersonal peserta didik yang didapat secara bersama dan merata. Meng¬a¬pa? Sebab dengan pela¬jar yang tidak memiliki konsisten private dalam membaca dan belajar akan menjadi bumerang bagi setiap lembaga pendidikan untuk merealisasikan idealisme luhur seperti di atas.

Pemuda atau lebih spesifik lagi adalah  pelajar  yang  merupakan pemimpin hari esok (syubbanul yaum rijal al-ghad) sekaligus pemegang tongkat estafet bangsa menuju “baldatun thayyibatun wa robbun ghafur” tidak dapat diharapkan eksistensinya selama pela¬jar sekarang lebih suka santai dengan rutinitasnya yang merugi dan mening¬galkan budaya baca dan belajar.

Maka fenomena ini kita harus dicegah secara signifikan agar tidak menjadi tunas yang kemudian tumbuh menjadi bibit penyakit yang berbahaya bagi sang pelajar. Namun sebelum kita lebih jauh melangkah, merupakan hal sangat mendasardan krusial bagi kita adalah mengetahui terhadap faktor pelajar yang OKB. Hal ini kita lakukan agar dapat tridentisolusifikasi alternatif apa yang kita harus ambil untuk mem¬bangun budaya baca dan pelajar di kalangan siswa atau untuk meng¬hapus pelajar OKB. Menurut hemat penulis, ada dua faktor dominan yang menye-babkan pelajar OKB, yaitu “pela¬jar yang tidak punya tujuan yang pasti dalam  jenjang edukasi dan tidak ada
kontrol dari orang tua pelajar”.

Pertama, pelajar yang tidak me-miliki orientasi pasti dalam jenjang edukasi. Hal ini merupakan konsek-wensi riil dari pelajar sekarang yang cenderung menganggap sekolah se-bagai tempat bermain. Sehingga adalah hal yang lumrah jika pelajar sekarang hanya mengklaim sekolah sebagai fungsi kosong saja.

kedua, tidak ada kontrol dari orang tua pelajar. Hal ini akan menjadi stimulus tersendiri bagi anaknya (baca: belajar) untuk bebas memilih “way of life” yang cenderung depositif. Misal¬nya, mereka  lebih suka nongkrong di pinggir jalan raya sambil main gitar daripada memenuhi tugasnya sebagai seorang pelajar.

“Setiap organisasi adalah masya-rakat baru yang mendapatkan ilmu pengetahuan, mempelajari keahlian, dan mengembangkan karakteristik publik maupun private yang senada dengan demokrasi konstitusional”.mimpin hari esok (syubbanul yaum rijal al-ghad) sekaligus pemegang tongkat estafet bangsa menuju “baldatun thayyibatun wa robbun ghafur” tidak dapat diharapkan eksistensinya selama pela¬jar sekarang lebih suka santai dengan rutinitasnya yang merugi dan mening¬galkan budaya baca dan belajar.

Maka fenomena ini kita harus dicegah secara signifikan agar tidak menjadi tunas yang kemudian tumbuh menjadi bibit penyakit yang berbahaya bagi sang pelajar. Namun sebelum kita lebih jauh melangkah, merupakan hal sangat mendasardan krusial bagi kita adalah mengetahui terhadap faktor pelajar yang OKB. Hal ini kita lakukan agar dapat tridentisolusifikasi alternatif apa yang kita harus ambil untuk mem¬bangun budaya baca dan pelajar di kalangan siswa atau untuk meng¬hapus pelajar OKB. Menurut hemat penulis, ada dua faktor dominan yang menye-babkan pelajar OKB, yaitu “pela¬jar yang tidak punya tujuan yang pasti dalam  jenjang edukasi dan tidak adakontrol dari orang tua pelajar”.

Pertama, pelajar yang tidak me-miliki orientasi pasti dalam jenjang edukasi. Hal ini merupakan konsek-wensi riil dari pelajar sekarang yang cenderung menganggap sekolah se-bagai tempat bermain. Sehingga adalah hal yang lumrah jika pelajar sekarang hanya mengklaim sekolah sebagai fungsi kosong saja.

kedua, tidak ada kontrol dari orang tua pelajar. Hal ini akan menjadi stimulus tersendiri bagi anaknya (baca: belajar) untuk bebas memilih “way of life” yang cenderung depositif. Misal¬nya, mereka  lebih suka nongkrong di pinggir jalan raya sambil main gitar daripada memenuhi tugasnya sebagai seorang pelajar.

“Setiap organisasi adalah masya-rakat baru yang mendapatkan ilmu pengetahuan, mempelajari keahlian, dan mengembangkan karakteristik publik maupun private yang senada dengan demokrasi konstitusional”.
 
Oleh: Putra Abdur Rohiem

Diberdayakan oleh Blogger.
"HAK CIPTA MILIK ALLAH SWT"