Mungkin malam ini aku bisa meresapi betapa dinginya ribuan embun yang menyelimuti diriku. Sejak awal februari cuaca di Jakarta emang beda dengan di Bandung, di Jakarta curah hujan cukup tinggi sekitar 15 derajat celcius sampek–sampek tiap hari mantel berbahan sutra yang berwarna biru. Aku memang lover”s banget sama warna biru karena biru melambangkan ketenangan yang damai. Aku ingin menciptakan dunia ini damai, jadi tidak ada peperangan yang selalu mengusik dunia. Tapi semua itu tak segampang yang kukira karena setiap perkumpulan pasti ada yang menjadi fir’aun alias drung yang berhati hitam dan jahat “kenyataannya kun”.
Keesokan hari...
Pagi ini adalah pagi yang begitu spesial buatku untuk pertama kali menginjak sekolahan yang begitu mewah tepatnya di 143 Jakarta.
“Helda“ ucap seorang yang memanggilku, “siapa yang kayaknya kenal“ batinku saat melihat dari jauh. “Hel...lho masih kenal kan... ni gue Feby sobat lho waktu SMP.”
“Feby... masyaallah kamu bener Feby sobat gue yang tomboy itu kan... tapi kayaknya ga’ kaya’ biasa.“
“Ya emang bener sekarang gue ingin menjahui sikap tomboy gue yang dulu.”
“Lho, kok bisa berubah? Salut gitu, gue gak nyangka sikap lho,“
“Ceritanya panjang tar gue ceritain, O,,,ya, lho kok bisa masuk ke sekolah ini?”
“Gue pindah, Feb... soalnya bokap gue ada bisnis di Jakarta. Ya jadinya keluarga gue pindah ke sini.”
“Oooh gitu. Lho masuk ke kelas apa, Hel?”
“Xl-B,“ ucapku lencang
“Wah sama donk, lho duduk sama gue ya!“
“Iya deh.”
Kebetulan waktu itu jam pelajaran masih gak aktif, dengan adanya waktu luang Feby pun menceritakan peru¬bahannya di luar kelas sambil menik¬mati pemandanga halaman sekolah dan sekaleng coca-cola di penga¬nganku.
“Lho yakin dia tuch cowok yang
setia? Masak sih lho percaya gitu ma dia sampek-sampek lho tuh berubah?“
“Gue she yakin banget klo Riski tipe orang yang begitu, emangnya kenapa? Apa lho gak seneng sama perubahan gue sekarang, Hel?”
“Eem...m seneng banget gue, malahan ini yang gue harapkan dulu,”
“Bisa aja lho Helda” ucapnya tersenyum.
“Hei, Feb...” sapa Riski saat di hadapan-nya.
“Riski? lho kok ada di sini “
“Harusnya gue nanya sama lho, lho ngapain dari tadi keluyuran emangnya ga’ ada gurunya?”
“Emang iya ga’ ada gurunya, namun ada waktu gue mau nunjukin fasilitas disini ke temen gue,”
“Ini temen lho...dia anak baru disini?”
“Ya .... kenalin namanya Helda.”
“Gue Rizki,” (saling berpandang mata)
“Oya...ya jangan lama-lama ya kenalannya yang penting udah saling tau. Masih ada tempat yang belum gue kasih tau sama lho Riz gue pergi dulu ya“
“Oh ya ga’ apa apa “ ucapku tersenyum .
“Kayaknya gitu kenal sama cewek itu, tapi apa bener dia itu Helda,”
Memang saat pertemanan itu Rizki sudah mengenalnya lebih dulu, karena waktu itu Rizki menyimpan perasaannya dulu. Saat Helda me-ngun¬jungi tempat pamannya di Bogor. Tapi itu sulit untuk menjawab kata ”iya” di bibir Helda. Karena sudah berulang kali Rizki mengatakan cinta padanya, tapi hasilnya sia-sia sebe¬narnya. Helda sudah menyukainya, tapi dia tak ingin seseorang yang menya¬yaginya kecewa karena sebenarnya Helda mengidap penyakit infeksi pada jaringan otaknya. Saat Rizki sudah mengetahui itu semua Helda berusaha menjauh dan melupakannya.
“Hel, kamu pulang bareng siapa?”
“Eem...biasanya gue dijemput sama Pak Padi, super gue.”
“Owh ...gitu, udah dulu ya gue dha dijemput sama Rizki di luar. Lho hati-hati ya...oya ni ni ada surat undangan buat lho tar malam lho datang plies ga’ ada lho kyaknya pesta ga’ sem¬purna.“
“Cie...e bisa gombal aja lho. Iya deh gue insyaallah dateng.“
“Okey sampai ketemu besok malam ya...by”
Aku mungkin bisa mengakhiri dengan menganggukkan kepala dan tersenyum karena bibirku membisu saat kumelihat mereka berdua. Bukan¬nya cemburu, tapi ini adalah sebuah penyesalan.
“Helda...Helda, ini ada ada teman kamu dateng”
“Iya mah... tunggu dulu nanti Helda ke bawah ma...”
Saat aku melihat ternyata Feby dan Rizki menunggu di bawah.
“Ayah ... Helda mau pergi sebentar sama teman,“
“Ya sudah ga’ apa-apa, jangan malem-malem pulangya. Oya nak Rizki, om juga titip Helda ke kamu, soalnya Om sudah tau sikap kamu dulu waktu di Bogor yah...”
“Ya Om... saya mohon pamit, assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikum salam.“ jawabnya.
Di perjalanan kami hanya bertiga mezkipun aku hanya diam membisu. Sesampai tempat tujuan.
“Emmm,, Feb kamu duduk sama Helda di bangku sebelah utara itu ya, aQ mau parkir mobil. Jaga temanmu baik–baik ya!”
“Ya hati-hati ya, sayang.”
Sementara itu Helda hanya sebagai budak yang berdiam di atas kursi dan Feby berkeliling menjumpai teman–temannya.
“Disini ada toilet ga’ yach, du...uh ... kepalaku pusing banget, Feby kemana ya dari tadi belom dateng,”
batinku sambil memijat kepalaku yang amat pusing.
Saat itu Helda berjalan pelan-pelan sambil mencari toilet. Belum sampai di tujuan tiba-tiba Helda ping¬san dan hidungnya bercucuran darah. Tak disangka Rizki ga’ sengaja melihat dan menghampiri.
“Hel... Helda kamu ga apa-apa kan? Kamu kenapa... apa penyakit kamu kumat lagi?“ ucap Rizki sambil memangkunya dan merasa khawatir.
“Ga’, Riz, aQ ga’ apa-apa. Aku ingin pulang, Riz, tolong antar aku pulang!“
Rizki pun mengantarkan aku pulang tanpa pamit kepada Feby dan kembali ke pesta. Dan Feby pun tau tentang kabar Helda pingsan.
“Tadi aku lihat kamu berdua’an dengan Helda ngapain?“
“Aku cuman nganterin Helda pulang karena Helda sakit dan minta pulang,”
“Alah itu cuman alasan kamu untuk mengantarnya. Klo kamu menyanyanginya kenapa ga’ dari dulu dan kenapa baru sekarang kamu menyatakan?”
“Kamu salah paham, Feb. Aku sama dia cuman teman,“
“Terus kenapa ayah Helda begitu baik sama kamu, sedangkan aku sahabat karibnya ga’ dibela-belain? Kenapa, kenapa Rizki, kenapa?”
Tak sepatah pun Rizki menjawab, Feby sudah tidak ada di hadapannya. Saat itu Rizki berusaha mengejar, tapi Feby menyebrang dengan semau dia dan langsung..
“Bra...a..k...k..” darah berucuran kemana–mana. Rizki hanya bisa melihat dan memeluknya, tetapi tidak bisa menjawab, aku menjelaskannya semua itu.
Sudah tiga hari kematian Feby, tapi hal itu tidak bisa dilupakan oleh Helda. Saat itu Helda selalu dihantui oleh banyangan-bayangan Feby dan kabar itu sudah diketahui oleh Rizki.
“Kamu tau dari mana soal itu, Riz?”
“Kamu ga’ usah tau soal itu, yang pasti aku selalu menjagamu dari belakang,“ Helda diam tanpa kata dan pandanganya saling bertatapan, dan Helda berusaha berpaling darinya.
“Eem..m..m aku menemukan Diarynya Feby di rumahnya, aku baca aja. Saat dibuka ternyata ada rangkaian B. Inggris yang isinya:
Dear My Boy Frend
I always need time on my alone, I never thoght I’d need you there when cry and the days feel like years when I’m alone when you‘re gone the pieces
of my heart are missing you, when you‘re gone the face I come to know is missing too.
“Dulu aku selalu butuh waktu sendirian, tak pernah terpikir aku kan membutuhkan kamu saat aku menangis dan hari-hari terasa seperti saat aku sendirian saat kau tak ada seluruh hatiku merindukanmu, saat kau tiada wajah yang mulai kukenal juga hilang.”
Saat Rizki membaca curhat itu, ada selembar kertas yang belum diketahui Helda dan Rizki, tapi Helda baru mengetahui benda itu secara tiba-tiba.
Dear Sobatku
Aku mengerti semua tentang cinta dan kenangan masa lalu saat kau hadir dalam hidupku. Aku ingin hidup tenang tanpa ada kata bohong di telingaku. Aku mengerti semua ini, jadi pesanku padamu sobatku, Qtitip dia padamu dan bahagiakan dia karena dia adalah seorang yang membuatku berubah menjadi yang lebih baik.
So much forgive happy ending(terimakasih telah memberikan akhir kisah yang bahagia) tiba-tiba kertas berwarna merah itu menge¬luarkan darah saat dipegang Rizki. Saat Rizki menatap Helda, Helda menangis dan memeluk Rizki dengan erat.
“Maafin aku, Riz, maafkan semua kesalahanku karena aku tak ingin membuatmu kecewa atas prilaku dan peyakit yang kualami.”
“Jadi kau memang mencintaiku dari dulu?”
“I..y..y...a..a......”
“Hel... mezkipun kamu mengidap kanker pun aku tetap mencintaimu. Jadi tolong jangan mengecewakan aku karena aku ingin menjadi pelengkap terakhir buat mue,“ ucap Rizki tersenyum.
Mungkin ini menjadi kisah yang berakhir bahagia buatku Feby... aku sudah mengabulkan permintaanmu dan tolong jangan ganggu aku lagi, aku berjanji akan menjaga dia baik-baik. Di akhir semester aku akan dioperasi dengan keinginan ayah Rizki.
Tuhan ,,, izinkan aku tuk bersamanya dan berilah aku petunjuk untuk menjadi wanita tegar dan sholiha untuknya ...
Walaupun kisah ini menjadi misteri buat hidupku.
By: Facanah R_Helda
Keesokan hari...
Pagi ini adalah pagi yang begitu spesial buatku untuk pertama kali menginjak sekolahan yang begitu mewah tepatnya di 143 Jakarta.
“Helda“ ucap seorang yang memanggilku, “siapa yang kayaknya kenal“ batinku saat melihat dari jauh. “Hel...lho masih kenal kan... ni gue Feby sobat lho waktu SMP.”
“Feby... masyaallah kamu bener Feby sobat gue yang tomboy itu kan... tapi kayaknya ga’ kaya’ biasa.“
“Ya emang bener sekarang gue ingin menjahui sikap tomboy gue yang dulu.”
“Lho, kok bisa berubah? Salut gitu, gue gak nyangka sikap lho,“
“Ceritanya panjang tar gue ceritain, O,,,ya, lho kok bisa masuk ke sekolah ini?”
“Gue pindah, Feb... soalnya bokap gue ada bisnis di Jakarta. Ya jadinya keluarga gue pindah ke sini.”
“Oooh gitu. Lho masuk ke kelas apa, Hel?”
“Xl-B,“ ucapku lencang
“Wah sama donk, lho duduk sama gue ya!“
“Iya deh.”
Kebetulan waktu itu jam pelajaran masih gak aktif, dengan adanya waktu luang Feby pun menceritakan peru¬bahannya di luar kelas sambil menik¬mati pemandanga halaman sekolah dan sekaleng coca-cola di penga¬nganku.
“Lho yakin dia tuch cowok yang
setia? Masak sih lho percaya gitu ma dia sampek-sampek lho tuh berubah?“
“Gue she yakin banget klo Riski tipe orang yang begitu, emangnya kenapa? Apa lho gak seneng sama perubahan gue sekarang, Hel?”
“Eem...m seneng banget gue, malahan ini yang gue harapkan dulu,”
“Bisa aja lho Helda” ucapnya tersenyum.
“Hei, Feb...” sapa Riski saat di hadapan-nya.
“Riski? lho kok ada di sini “
“Harusnya gue nanya sama lho, lho ngapain dari tadi keluyuran emangnya ga’ ada gurunya?”
“Emang iya ga’ ada gurunya, namun ada waktu gue mau nunjukin fasilitas disini ke temen gue,”
“Ini temen lho...dia anak baru disini?”
“Ya .... kenalin namanya Helda.”
“Gue Rizki,” (saling berpandang mata)
“Oya...ya jangan lama-lama ya kenalannya yang penting udah saling tau. Masih ada tempat yang belum gue kasih tau sama lho Riz gue pergi dulu ya“
“Oh ya ga’ apa apa “ ucapku tersenyum .
“Kayaknya gitu kenal sama cewek itu, tapi apa bener dia itu Helda,”
Memang saat pertemanan itu Rizki sudah mengenalnya lebih dulu, karena waktu itu Rizki menyimpan perasaannya dulu. Saat Helda me-ngun¬jungi tempat pamannya di Bogor. Tapi itu sulit untuk menjawab kata ”iya” di bibir Helda. Karena sudah berulang kali Rizki mengatakan cinta padanya, tapi hasilnya sia-sia sebe¬narnya. Helda sudah menyukainya, tapi dia tak ingin seseorang yang menya¬yaginya kecewa karena sebenarnya Helda mengidap penyakit infeksi pada jaringan otaknya. Saat Rizki sudah mengetahui itu semua Helda berusaha menjauh dan melupakannya.
“Hel, kamu pulang bareng siapa?”
“Eem...biasanya gue dijemput sama Pak Padi, super gue.”
“Owh ...gitu, udah dulu ya gue dha dijemput sama Rizki di luar. Lho hati-hati ya...oya ni ni ada surat undangan buat lho tar malam lho datang plies ga’ ada lho kyaknya pesta ga’ sem¬purna.“
“Cie...e bisa gombal aja lho. Iya deh gue insyaallah dateng.“
“Okey sampai ketemu besok malam ya...by”
Aku mungkin bisa mengakhiri dengan menganggukkan kepala dan tersenyum karena bibirku membisu saat kumelihat mereka berdua. Bukan¬nya cemburu, tapi ini adalah sebuah penyesalan.
“Helda...Helda, ini ada ada teman kamu dateng”
“Iya mah... tunggu dulu nanti Helda ke bawah ma...”
Saat aku melihat ternyata Feby dan Rizki menunggu di bawah.
“Ayah ... Helda mau pergi sebentar sama teman,“
“Ya sudah ga’ apa-apa, jangan malem-malem pulangya. Oya nak Rizki, om juga titip Helda ke kamu, soalnya Om sudah tau sikap kamu dulu waktu di Bogor yah...”
“Ya Om... saya mohon pamit, assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikum salam.“ jawabnya.
Di perjalanan kami hanya bertiga mezkipun aku hanya diam membisu. Sesampai tempat tujuan.
“Emmm,, Feb kamu duduk sama Helda di bangku sebelah utara itu ya, aQ mau parkir mobil. Jaga temanmu baik–baik ya!”
“Ya hati-hati ya, sayang.”
Sementara itu Helda hanya sebagai budak yang berdiam di atas kursi dan Feby berkeliling menjumpai teman–temannya.
“Disini ada toilet ga’ yach, du...uh ... kepalaku pusing banget, Feby kemana ya dari tadi belom dateng,”
batinku sambil memijat kepalaku yang amat pusing.
Saat itu Helda berjalan pelan-pelan sambil mencari toilet. Belum sampai di tujuan tiba-tiba Helda ping¬san dan hidungnya bercucuran darah. Tak disangka Rizki ga’ sengaja melihat dan menghampiri.
“Hel... Helda kamu ga apa-apa kan? Kamu kenapa... apa penyakit kamu kumat lagi?“ ucap Rizki sambil memangkunya dan merasa khawatir.
“Ga’, Riz, aQ ga’ apa-apa. Aku ingin pulang, Riz, tolong antar aku pulang!“
Rizki pun mengantarkan aku pulang tanpa pamit kepada Feby dan kembali ke pesta. Dan Feby pun tau tentang kabar Helda pingsan.
“Tadi aku lihat kamu berdua’an dengan Helda ngapain?“
“Aku cuman nganterin Helda pulang karena Helda sakit dan minta pulang,”
“Alah itu cuman alasan kamu untuk mengantarnya. Klo kamu menyanyanginya kenapa ga’ dari dulu dan kenapa baru sekarang kamu menyatakan?”
“Kamu salah paham, Feb. Aku sama dia cuman teman,“
“Terus kenapa ayah Helda begitu baik sama kamu, sedangkan aku sahabat karibnya ga’ dibela-belain? Kenapa, kenapa Rizki, kenapa?”
Tak sepatah pun Rizki menjawab, Feby sudah tidak ada di hadapannya. Saat itu Rizki berusaha mengejar, tapi Feby menyebrang dengan semau dia dan langsung..
“Bra...a..k...k..” darah berucuran kemana–mana. Rizki hanya bisa melihat dan memeluknya, tetapi tidak bisa menjawab, aku menjelaskannya semua itu.
Sudah tiga hari kematian Feby, tapi hal itu tidak bisa dilupakan oleh Helda. Saat itu Helda selalu dihantui oleh banyangan-bayangan Feby dan kabar itu sudah diketahui oleh Rizki.
“Kamu tau dari mana soal itu, Riz?”
“Kamu ga’ usah tau soal itu, yang pasti aku selalu menjagamu dari belakang,“ Helda diam tanpa kata dan pandanganya saling bertatapan, dan Helda berusaha berpaling darinya.
“Eem..m..m aku menemukan Diarynya Feby di rumahnya, aku baca aja. Saat dibuka ternyata ada rangkaian B. Inggris yang isinya:
Dear My Boy Frend
I always need time on my alone, I never thoght I’d need you there when cry and the days feel like years when I’m alone when you‘re gone the pieces
of my heart are missing you, when you‘re gone the face I come to know is missing too.
“Dulu aku selalu butuh waktu sendirian, tak pernah terpikir aku kan membutuhkan kamu saat aku menangis dan hari-hari terasa seperti saat aku sendirian saat kau tak ada seluruh hatiku merindukanmu, saat kau tiada wajah yang mulai kukenal juga hilang.”
Saat Rizki membaca curhat itu, ada selembar kertas yang belum diketahui Helda dan Rizki, tapi Helda baru mengetahui benda itu secara tiba-tiba.
Dear Sobatku
Aku mengerti semua tentang cinta dan kenangan masa lalu saat kau hadir dalam hidupku. Aku ingin hidup tenang tanpa ada kata bohong di telingaku. Aku mengerti semua ini, jadi pesanku padamu sobatku, Qtitip dia padamu dan bahagiakan dia karena dia adalah seorang yang membuatku berubah menjadi yang lebih baik.
So much forgive happy ending(terimakasih telah memberikan akhir kisah yang bahagia) tiba-tiba kertas berwarna merah itu menge¬luarkan darah saat dipegang Rizki. Saat Rizki menatap Helda, Helda menangis dan memeluk Rizki dengan erat.
“Maafin aku, Riz, maafkan semua kesalahanku karena aku tak ingin membuatmu kecewa atas prilaku dan peyakit yang kualami.”
“Jadi kau memang mencintaiku dari dulu?”
“I..y..y...a..a......”
“Hel... mezkipun kamu mengidap kanker pun aku tetap mencintaimu. Jadi tolong jangan mengecewakan aku karena aku ingin menjadi pelengkap terakhir buat mue,“ ucap Rizki tersenyum.
Mungkin ini menjadi kisah yang berakhir bahagia buatku Feby... aku sudah mengabulkan permintaanmu dan tolong jangan ganggu aku lagi, aku berjanji akan menjaga dia baik-baik. Di akhir semester aku akan dioperasi dengan keinginan ayah Rizki.
Tuhan ,,, izinkan aku tuk bersamanya dan berilah aku petunjuk untuk menjadi wanita tegar dan sholiha untuknya ...
Walaupun kisah ini menjadi misteri buat hidupku.
By: Facanah R_Helda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar