Berangkat dari realitas yang ber-kembang saat ini bahwa banyak pela¬jar sekarang yang propasif (baca: plus belajar), bahkan mereka lebih senang tertidur pulas, dengan diri mereka sen¬diri yang begitu kontra-produktif. Maka dari itulah, penulis tergugah untuk sekedar memberikan hantaran singkat dan memberikan kontribusi pemikiran sebagai lang¬kah antisipatif men¬cegah maraknya pela-jar yang propasif baca dan belajar.
Membaca, bela¬jar...? Wah... itu kuno ..,,,enjoy aja men! Mungkin ini kata-kata yang keluar secara spon-tanitas dari bibir pelajar OKB (Ogah Konsisten Belajar). Hal ini yang akan menjadi stimulasi spesifik bagi pelajar untuk melakoni budaya nonton yang sarat dengan dunia entertainment (hiburan) dari¬pada membaca dan belajar yang me¬rupakan kebutuhan fundamental bagi seorang pelajar. Membaca dan belajar yang sangat krusial bagi setiap pelajar untuk menambah khasanah keilmuan mereka, kini telah tersulap (direduksi) seakan menjadi hantu melenium yang harus ditinggalkan jauh-jauh oleh seorang pelajar.
Sejauh ini, maraknya pelajar yang mengalami stagnansi dalam membaca dan belajar (you can see) merupakan neokolonialisasi yang eksistensinya sangat kontradiktif dengan tujuan pembangunan nasional, yaitu untuk mencerdaskan kehi¬du¬pan berbangsa, serta turut memajukan tumbuhnya kecerdasan intelektual, kecerdasan interpersonal peserta didik yang didapat secara bersama dan merata. Meng¬a¬pa? Sebab dengan pela¬jar yang tidak memiliki konsisten private dalam membaca dan belajar akan menjadi bumerang bagi setiap lembaga pendidikan untuk merealisasikan idealisme luhur seperti di atas.
Pemuda atau lebih spesifik lagi adalah pelajar yang merupakan pemimpin hari esok (syubbanul yaum rijal al-ghad) sekaligus pemegang tongkat estafet bangsa menuju “baldatun thayyibatun wa robbun ghafur” tidak dapat diharapkan eksistensinya selama pela¬jar sekarang lebih suka santai dengan rutinitasnya yang merugi dan mening¬galkan budaya baca dan belajar.
Maka fenomena ini kita harus dicegah secara signifikan agar tidak menjadi tunas yang kemudian tumbuh menjadi bibit penyakit yang berbahaya bagi sang pelajar. Namun sebelum kita lebih jauh melangkah, merupakan hal sangat mendasardan krusial bagi kita adalah mengetahui terhadap faktor pelajar yang OKB. Hal ini kita lakukan agar dapat tridentisolusifikasi alternatif apa yang kita harus ambil untuk mem¬bangun budaya baca dan pelajar di kalangan siswa atau untuk meng¬hapus pelajar OKB. Menurut hemat penulis, ada dua faktor dominan yang menye-babkan pelajar OKB, yaitu “pela¬jar yang tidak punya tujuan yang pasti dalam jenjang edukasi dan tidak ada
kontrol dari orang tua pelajar”.
Pertama, pelajar yang tidak me-miliki orientasi pasti dalam jenjang edukasi. Hal ini merupakan konsek-wensi riil dari pelajar sekarang yang cenderung menganggap sekolah se-bagai tempat bermain. Sehingga adalah hal yang lumrah jika pelajar sekarang hanya mengklaim sekolah sebagai fungsi kosong saja.
kedua, tidak ada kontrol dari orang tua pelajar. Hal ini akan menjadi stimulus tersendiri bagi anaknya (baca: belajar) untuk bebas memilih “way of life” yang cenderung depositif. Misal¬nya, mereka lebih suka nongkrong di pinggir jalan raya sambil main gitar daripada memenuhi tugasnya sebagai seorang pelajar.
“Setiap organisasi adalah masya-rakat baru yang mendapatkan ilmu pengetahuan, mempelajari keahlian, dan mengembangkan karakteristik publik maupun private yang senada dengan demokrasi konstitusional”.mimpin hari esok (syubbanul yaum rijal al-ghad) sekaligus pemegang tongkat estafet bangsa menuju “baldatun thayyibatun wa robbun ghafur” tidak dapat diharapkan eksistensinya selama pela¬jar sekarang lebih suka santai dengan rutinitasnya yang merugi dan mening¬galkan budaya baca dan belajar.
Maka fenomena ini kita harus dicegah secara signifikan agar tidak menjadi tunas yang kemudian tumbuh menjadi bibit penyakit yang berbahaya bagi sang pelajar. Namun sebelum kita lebih jauh melangkah, merupakan hal sangat mendasardan krusial bagi kita adalah mengetahui terhadap faktor pelajar yang OKB. Hal ini kita lakukan agar dapat tridentisolusifikasi alternatif apa yang kita harus ambil untuk mem¬bangun budaya baca dan pelajar di kalangan siswa atau untuk meng¬hapus pelajar OKB. Menurut hemat penulis, ada dua faktor dominan yang menye-babkan pelajar OKB, yaitu “pela¬jar yang tidak punya tujuan yang pasti dalam jenjang edukasi dan tidak adakontrol dari orang tua pelajar”.
Pertama, pelajar yang tidak me-miliki orientasi pasti dalam jenjang edukasi. Hal ini merupakan konsek-wensi riil dari pelajar sekarang yang cenderung menganggap sekolah se-bagai tempat bermain. Sehingga adalah hal yang lumrah jika pelajar sekarang hanya mengklaim sekolah sebagai fungsi kosong saja.
kedua, tidak ada kontrol dari orang tua pelajar. Hal ini akan menjadi stimulus tersendiri bagi anaknya (baca: belajar) untuk bebas memilih “way of life” yang cenderung depositif. Misal¬nya, mereka lebih suka nongkrong di pinggir jalan raya sambil main gitar daripada memenuhi tugasnya sebagai seorang pelajar.
“Setiap organisasi adalah masya-rakat baru yang mendapatkan ilmu pengetahuan, mempelajari keahlian, dan mengembangkan karakteristik publik maupun private yang senada dengan demokrasi konstitusional”.
Oleh: Putra Abdur Rohiem
Tidak ada komentar:
Posting Komentar