Beranda Struktur OSIS Tugas dan Fungsi Program Kerja Aspirasi Siswa Opini Gagasan Novel Ceritaku Kontak Kami
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Pacaran ada budaya .....

Berbicara tentang pacaran yang sudah men¬jadi sorotan di¬ setiap lembaga manapun, baik lembaga umum maupun lemba¬ga swasta, akhir–akhir ini di era yang serba edan dalam lapisan ma¬sya¬rakat mulai dari yang muda sampai yang tua, baik yang berada di kota-kota besar sampai merasuk ke plosok desa, yang sudah menjadi bahan perbincangan adalah soal pacaran, seakan-akan cinta di akhir–akhir ini, di era yang serba edan di seluruh lapisan masyarakat mulai dari doktrin lamaran yang berbasis pesantren dalam perkembangan selalu menghadapi banyak tantangan baik internal maupun eksternal.

Pada umumnya masyarakat, khususnya para pelajar yang ingin mencari pasangan hidup kita harus selalu mengikuti aturan-aturan agama, dan karena adanya budaya luar yang berhembus masuk ke dalam aktivitas kehidup¬an ditam¬bah lagi dengan hadirnya berba¬gai media inter¬net.

Setelah meli¬hat fanomena yang sangat kru¬sial sekali, sudah saatnya bagi lem¬¬baga umum bagi lembaga swasta untuk lebih mem¬fungsikan nilai–nilai ke-pesantren-an yang bersifat nor¬matif dan untuk merealisikan perintah Allah.

Dengan kita mengetahui bahwa berbagai bentuk hubungan di lem-baga swasta itu sangat ditentang oleh norma–norma ke-pesantren-an, maka kita harus menempati dengan cara melakukan aturan yang bersumber dari islam atau membudayakan tradisi ke-islam-an, yakni dengan kita mengetahui bahwa hubungan di lembaga swasta  itu sangat di tentang.

By: Kru Gastida 

Ada pelajar OKB

Berangkat dari realitas yang ber-kembang saat ini bahwa banyak pela¬jar sekarang yang propasif (baca: plus belajar), bahkan mereka lebih senang tertidur pulas, dengan diri mereka sen¬diri yang begitu kontra-produktif. Maka dari itulah, penulis tergugah untuk sekedar memberikan hantaran singkat dan memberikan kontribusi pemikiran sebagai lang¬kah antisipatif men¬cegah maraknya pela-jar yang propasif baca dan belajar.

Membaca, bela¬jar...? Wah... itu kuno ..,,,enjoy aja men! Mungkin ini kata-kata yang keluar secara spon-tanitas dari bibir pelajar OKB (Ogah Konsisten Belajar). Hal ini yang akan menjadi stimulasi spesifik bagi pelajar untuk melakoni budaya nonton yang sarat dengan dunia entertainment (hiburan) dari¬pada membaca dan belajar yang me¬rupakan kebutuhan fundamental bagi seorang pelajar. Membaca dan belajar yang sangat krusial bagi setiap pelajar untuk menambah khasanah keilmuan mereka, kini telah tersulap (direduksi) seakan menjadi hantu melenium yang harus ditinggalkan jauh-jauh oleh seorang pelajar.

Sejauh ini, maraknya pelajar yang mengalami stagnansi dalam membaca dan belajar (you can see) merupakan neokolonialisasi yang eksistensinya sangat kontradiktif dengan tujuan pembangunan nasional, yaitu untuk mencerdaskan kehi¬du¬pan berbangsa, serta turut memajukan tumbuhnya kecerdasan intelektual, kecerdasan interpersonal peserta didik yang didapat secara bersama dan merata. Meng¬a¬pa? Sebab dengan pela¬jar yang tidak memiliki konsisten private dalam membaca dan belajar akan menjadi bumerang bagi setiap lembaga pendidikan untuk merealisasikan idealisme luhur seperti di atas.

Pemuda atau lebih spesifik lagi adalah  pelajar  yang  merupakan pemimpin hari esok (syubbanul yaum rijal al-ghad) sekaligus pemegang tongkat estafet bangsa menuju “baldatun thayyibatun wa robbun ghafur” tidak dapat diharapkan eksistensinya selama pela¬jar sekarang lebih suka santai dengan rutinitasnya yang merugi dan mening¬galkan budaya baca dan belajar.

Maka fenomena ini kita harus dicegah secara signifikan agar tidak menjadi tunas yang kemudian tumbuh menjadi bibit penyakit yang berbahaya bagi sang pelajar. Namun sebelum kita lebih jauh melangkah, merupakan hal sangat mendasardan krusial bagi kita adalah mengetahui terhadap faktor pelajar yang OKB. Hal ini kita lakukan agar dapat tridentisolusifikasi alternatif apa yang kita harus ambil untuk mem¬bangun budaya baca dan pelajar di kalangan siswa atau untuk meng¬hapus pelajar OKB. Menurut hemat penulis, ada dua faktor dominan yang menye-babkan pelajar OKB, yaitu “pela¬jar yang tidak punya tujuan yang pasti dalam  jenjang edukasi dan tidak ada
kontrol dari orang tua pelajar”.

Pertama, pelajar yang tidak me-miliki orientasi pasti dalam jenjang edukasi. Hal ini merupakan konsek-wensi riil dari pelajar sekarang yang cenderung menganggap sekolah se-bagai tempat bermain. Sehingga adalah hal yang lumrah jika pelajar sekarang hanya mengklaim sekolah sebagai fungsi kosong saja.

kedua, tidak ada kontrol dari orang tua pelajar. Hal ini akan menjadi stimulus tersendiri bagi anaknya (baca: belajar) untuk bebas memilih “way of life” yang cenderung depositif. Misal¬nya, mereka  lebih suka nongkrong di pinggir jalan raya sambil main gitar daripada memenuhi tugasnya sebagai seorang pelajar.

“Setiap organisasi adalah masya-rakat baru yang mendapatkan ilmu pengetahuan, mempelajari keahlian, dan mengembangkan karakteristik publik maupun private yang senada dengan demokrasi konstitusional”.mimpin hari esok (syubbanul yaum rijal al-ghad) sekaligus pemegang tongkat estafet bangsa menuju “baldatun thayyibatun wa robbun ghafur” tidak dapat diharapkan eksistensinya selama pela¬jar sekarang lebih suka santai dengan rutinitasnya yang merugi dan mening¬galkan budaya baca dan belajar.

Maka fenomena ini kita harus dicegah secara signifikan agar tidak menjadi tunas yang kemudian tumbuh menjadi bibit penyakit yang berbahaya bagi sang pelajar. Namun sebelum kita lebih jauh melangkah, merupakan hal sangat mendasardan krusial bagi kita adalah mengetahui terhadap faktor pelajar yang OKB. Hal ini kita lakukan agar dapat tridentisolusifikasi alternatif apa yang kita harus ambil untuk mem¬bangun budaya baca dan pelajar di kalangan siswa atau untuk meng¬hapus pelajar OKB. Menurut hemat penulis, ada dua faktor dominan yang menye-babkan pelajar OKB, yaitu “pela¬jar yang tidak punya tujuan yang pasti dalam  jenjang edukasi dan tidak adakontrol dari orang tua pelajar”.

Pertama, pelajar yang tidak me-miliki orientasi pasti dalam jenjang edukasi. Hal ini merupakan konsek-wensi riil dari pelajar sekarang yang cenderung menganggap sekolah se-bagai tempat bermain. Sehingga adalah hal yang lumrah jika pelajar sekarang hanya mengklaim sekolah sebagai fungsi kosong saja.

kedua, tidak ada kontrol dari orang tua pelajar. Hal ini akan menjadi stimulus tersendiri bagi anaknya (baca: belajar) untuk bebas memilih “way of life” yang cenderung depositif. Misal¬nya, mereka  lebih suka nongkrong di pinggir jalan raya sambil main gitar daripada memenuhi tugasnya sebagai seorang pelajar.

“Setiap organisasi adalah masya-rakat baru yang mendapatkan ilmu pengetahuan, mempelajari keahlian, dan mengembangkan karakteristik publik maupun private yang senada dengan demokrasi konstitusional”.
 
Oleh: Putra Abdur Rohiem

Diberdayakan oleh Blogger.
"HAK CIPTA MILIK ALLAH SWT"