Saat sore tiba aku selalu duduk di pinggir jalan, tempat melintasnya manusia dengan segala aktifitas. Namun suasana berubah saat seorang wanita dengan baju cream melintas di tempatku dan teman–teman biasa nongkrong dan ingin sekali memiliki-nya, Eva namanya, ya begitu, begitulah Ia dipanggil. Walaupun senyum itu belum tentu untukku, tapi aku yakin itu untukku. Senyumnya itu tak dapat kulupakan, sebab saat itu umurku masih 17 tahun, masih pubertas. Kuterbayang wajahnya yang manis, memberi kesejukan tersendiri pada nikmatnya. Kutak peduli dengan kata–kata mereka, suasana keakraban antara kami tercipta, kami semua teman–teman lama mulai SMP, semua nostalgia masa lalu terulang di sore itu. Saling bergantian bercerita selama berjalan kehidupan masing–masing. Apalagi hatiku berbunga-bunga oleh senyuman princessa bintang tersebut, ditambah dengan canda tawa teman–teman lama.
Adzan mahgrib menyambut, buka puasa telah mengetuk untuk me-nyambut hidangan ibuku yang mulai sore tadi mempersiapkan. Rasa bahagia dan kehangatan kekeluarga-an tercipta karena bulan ramadhan semua keluargaku berkumpul.
Di rumah kalau hari-hari biasanya
hanya dihuni Bapak, Ibu dan Adik laki-laki kecilku. Bulan ramadhan kali ini begitu berarti bagiku, karena semua-nya berkumpul. Entah mengapa aku selalu terbayang olehnya, padahal ini kan bulan puasa. Apakah ini yang namanya cinta, semoga saja ini bukan talian tipuan syetan untuk meng-hancurkan pahala puasaku. Batinku berperang menjawab hendak bagai-mana menentukan sikap.
Makanan segar dan minuman dingin mengawali puasa hari ini. Alhamdulillah, menikmatinya. Bapak, Ibu, Adek & Kakak duduk mengelilingi meja makan. Indah sekali rasanya suasana ramadhan kali ini. Dan kini aku tengah bersiap-siap untuk melaksana¬kan shalat tarawih di masjid.
“Rud, mukamu kok keliatan ceria banget hari nie, ada apa niech..??” Toni
membuka percakapan.
“Kamu terbayang dengan senyum Eva ea?”
“Fani dan teman-teman yang lain ikut tertawa,”
“Emangnya cuma Eva yang bisa membuatku ceria?” jawabku membela.
Waktu terus bergulir deras seiring bergantinya hari-hari liburanku. Senyum Eva yang kujumpai dua hari lalu, kini kujumpai lagi di sebuah toko pakain. Saat itu aku mau beli kaos. Hatiku tergetar melihanya, kegersa-ngan jiwa selama ini terasa sejuk dengan sinar raut mukanya dan senyuman manisnya.
“Mau beli apa, Rud..??” senyumnya bergulir dari daun bibirnya.
“Eh...... kamu, Va. Lagi nyari kaos niech.” waw detak jantungku semakin kencang dengan sapaannya.
Setiap aku berada dimanapun aku selalu berharap akan bertemu dengan¬nya lagi. Namun tiga hari kemudian harapan bertemu dengannya tak lagi bisa. Rindu itu kutahan sampai beberapa hari sampai suatu saat di suatu penganten aku bertemu dengannya, seperti biasa hati bergerak tanpa arah saat aura perempuan itu menaburkan indahnya di mata. Mulanya aku bahagia bisa melepas kerinduan walau hanya lewat pandangan, namun kesedihan tiba-tiba datang menyapa saat acara itu selesai dan Eva kukira menghilang dari pandanganku. Aku bingung kenapa Eva masih belum pulang padahal yang lainnya sudah pada pulang. Kuberanikan diri mendekatinya.
“Aku sengaja menunggumu dari tadi, Rud.” Suaranya yang merdu mengawali percakapan.
“Memangnya ada perlu apa?” aku malu berada di sampingnya.
“Kita pulang bareng yuuk!” pintanya manis.
Sebenarnya aku ngak mau me-lakukan sesuatu di luar peraturan agama, tapi ngak mau mengecewakan dia. Kami berjalan asyik dengan obrolan basa-basi seputar penga
Kami mencoba mengenalkan diri ma-sing-masing, sampai akhirnya langkah terhenti di depan pintu rumah Eva.
Kenangan inilah yang ngak dapat kulupakan, hingga suatu hari berita bahwa Eva akan pergi ke kota. Pertama kucoba berbaik sangka, mungkin ia mau melanjutkan study kuliahnya di kota. Tapi itu awal dari kesedihanku, ia pergi bersama tunangnnya untuk melang¬sung¬kan pernikahannya di rumah bapaknya. Ia begitu baik padaku, aku sulit sekali melepas ia pergi. Senyum manisnya yang selama ini diberikan harus kunikmati dengan tangisan mendalam yang entah harus berapa lama aku menanggungnya.
Adzan mahgrib menyambut, buka puasa telah mengetuk untuk me-nyambut hidangan ibuku yang mulai sore tadi mempersiapkan. Rasa bahagia dan kehangatan kekeluarga-an tercipta karena bulan ramadhan semua keluargaku berkumpul.
Di rumah kalau hari-hari biasanya
hanya dihuni Bapak, Ibu dan Adik laki-laki kecilku. Bulan ramadhan kali ini begitu berarti bagiku, karena semua-nya berkumpul. Entah mengapa aku selalu terbayang olehnya, padahal ini kan bulan puasa. Apakah ini yang namanya cinta, semoga saja ini bukan talian tipuan syetan untuk meng-hancurkan pahala puasaku. Batinku berperang menjawab hendak bagai-mana menentukan sikap.
Makanan segar dan minuman dingin mengawali puasa hari ini. Alhamdulillah, menikmatinya. Bapak, Ibu, Adek & Kakak duduk mengelilingi meja makan. Indah sekali rasanya suasana ramadhan kali ini. Dan kini aku tengah bersiap-siap untuk melaksana¬kan shalat tarawih di masjid.
“Rud, mukamu kok keliatan ceria banget hari nie, ada apa niech..??” Toni
membuka percakapan.
“Kamu terbayang dengan senyum Eva ea?”
“Fani dan teman-teman yang lain ikut tertawa,”
“Emangnya cuma Eva yang bisa membuatku ceria?” jawabku membela.
Waktu terus bergulir deras seiring bergantinya hari-hari liburanku. Senyum Eva yang kujumpai dua hari lalu, kini kujumpai lagi di sebuah toko pakain. Saat itu aku mau beli kaos. Hatiku tergetar melihanya, kegersa-ngan jiwa selama ini terasa sejuk dengan sinar raut mukanya dan senyuman manisnya.
“Mau beli apa, Rud..??” senyumnya bergulir dari daun bibirnya.
“Eh...... kamu, Va. Lagi nyari kaos niech.” waw detak jantungku semakin kencang dengan sapaannya.
Setiap aku berada dimanapun aku selalu berharap akan bertemu dengan¬nya lagi. Namun tiga hari kemudian harapan bertemu dengannya tak lagi bisa. Rindu itu kutahan sampai beberapa hari sampai suatu saat di suatu penganten aku bertemu dengannya, seperti biasa hati bergerak tanpa arah saat aura perempuan itu menaburkan indahnya di mata. Mulanya aku bahagia bisa melepas kerinduan walau hanya lewat pandangan, namun kesedihan tiba-tiba datang menyapa saat acara itu selesai dan Eva kukira menghilang dari pandanganku. Aku bingung kenapa Eva masih belum pulang padahal yang lainnya sudah pada pulang. Kuberanikan diri mendekatinya.
“Aku sengaja menunggumu dari tadi, Rud.” Suaranya yang merdu mengawali percakapan.
“Memangnya ada perlu apa?” aku malu berada di sampingnya.
“Kita pulang bareng yuuk!” pintanya manis.
Sebenarnya aku ngak mau me-lakukan sesuatu di luar peraturan agama, tapi ngak mau mengecewakan dia. Kami berjalan asyik dengan obrolan basa-basi seputar penga
Kami mencoba mengenalkan diri ma-sing-masing, sampai akhirnya langkah terhenti di depan pintu rumah Eva.
Kenangan inilah yang ngak dapat kulupakan, hingga suatu hari berita bahwa Eva akan pergi ke kota. Pertama kucoba berbaik sangka, mungkin ia mau melanjutkan study kuliahnya di kota. Tapi itu awal dari kesedihanku, ia pergi bersama tunangnnya untuk melang¬sung¬kan pernikahannya di rumah bapaknya. Ia begitu baik padaku, aku sulit sekali melepas ia pergi. Senyum manisnya yang selama ini diberikan harus kunikmati dengan tangisan mendalam yang entah harus berapa lama aku menanggungnya.
Oleh: Rusdiy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar